Rabu, 10 Juni 2015

“Sisi Ilmiah Al-Quran sebagai Media Ketenangan”
Oleh : Brenda Desy R.

“ Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk” (QS 93:7)

Ketenangan hati merupakan suatu perasaan yang didambakan oleh setiap insan. Seberat apapun masalah yang menimpa, jika manusia menghadapinya dengan hati yang tenang niscaya masalah tersebut tidak akan memberi dampak buruk bagi mereka yang sedang mengalaminya. Namun, di era yang semakin modern ini, permasalahan menjadi semakin banyak dan kompleks, etos kerja yang tinggi menuntut masyarakat untuk tampil dengan performa sempurna. Hal ini akan menyebabkan tingkat stress di masyarakat tentu meningkat pula. Oleh sebab itu, apakah hakikatnya yang dibutuhkan manusia agar segala kepenatan dunia ini berkurang? Berjalan-jalankah? Belanja? Ataukah cukup hanya dengan mendengarkan, membaca dan mempelajari Al-Qur’an?
Suatu tim peneliti dari University Malaysia Pahang melakukan sebuah penelitian untuk mengetahui pengaruh taubat dan mendengarkan Al-Qur’an tergadap galvanic skin response (GSR). GSR merupakan perubahan sifat konduksi listrik pada kulit. Sinyal yang diterima melalui pengukuran GSR diintepretasikan sebagai respon syaraf otonom simpatik khususnya sebagai parameter fungsi kelenjar keringat. GSR dapat digunakan untuk mengetahui perubahan psikologi berupa respon simpatik dan emosional. Pada hasil penelitian tersebut, di dapatkan taubat dan mendengarkan Al-Quran masing-masing menghasilkan perubahan GSR yang lebih besar daripada kontrol. Berdasarkan hal ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa hanya mendengarkan Al-Qur’an pun akan mampu mengurangi stress, kegalauan, ataupun rasa pesimisme pada diri (Salam et al., 2013). Apalagi jika ayat-ayat suci tersebut dibaca dan dihayati maknanya.
 Selain itu, penelitian serupa yang dilakukan oleh Awa (2014) juga menyimpulkan hal yang sama. Pasien ICU muslim yang membutuhkan ventilator untuk mengatasi distres napasnya di intervensi dengan mendengarkan surat Al-Fatihah dan Surat Yasin selama 30 menit. Kemudian, dilakukan pengukuran terhadap heart rate, tekanan darah sistole dan diastole, mean artery preasure, respiratory rate, dan saturasi oksigen. Hasilnya menunjukkan adanya kestabilan terhadap indikator tersebut. Terdapat banyak penelitian lain yang menyimpulkan hal serupa. Hal ini menunjukkan betapa Al-Quran mampu memberi pengaruh yang kuat bagi jiwa dan raga manusia.
Membaca Al-Quran pun memiliki efek yang tidak kalah dalam hal ketenangan jiwa. Sebuah studi menganalisis perbandingan sinyal elektrocephalogram (EEG) selama seseorang membaca Al-Qur’an dan membaca buku. Membaca buku dijadikan sebagai kontrol karena kedua hal tersebut pada intinya sama-sama melakukan proses membaca. Hasilnya didapatkan korelasi yang negatif atau berbanding terbalik antara membaca buku dan membaca Al-Qur’an, dimana membaca Al-Qur’an menghasilkan gelombang yang lebih tinggi sedangkan membaca buku menghasilkan gelombang yang rendah (Kamal et al.,2013).
 Kajian-kajian tersebut ibarat setetes air di lautan luas. Masih banyak sekali penelitian-penelitian yang membahas tentang keajaiban Al-Qur’an. Namun, di luar hal itu semua, betapa Maha Besar Allah yang menurunkan Al-Qur’an kepada umat manusia. Al-Qur’an merupakan suatu wujud kecintaan Allah kepada hambaNya. Melalui Al-Qur’an Allah berbicara, mengingatkan, dan menghibur hambaNya. Betapa indah sesungguhnya cinta Allah kepada manusia. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?



DAFTAR PUSTAKA

Salam, U.B.; Wahab, M.N.A.; dan Ibrahim, A.B. 2013. Potentiality of taubah (Islamic repentance) and listening to the Holy Quran recitation on galvanic skin response. International Journal of Psychology and Counseling 5(2): 33-37.
Awa, S. 2014. Effect of Holy Quran on Physiological Stress Response Among Muslim Patients In Intensive Care Unit. CoMM
Kamal, N.F.; Mahmood, N.H. dan Zakaria, N.A. 2013. Modeling brain activities during reading working memory task: Comparison between reciting Quran and reading book. Procedia-Social and Behavioral Science 97: 83-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar