Oleh: dr.
Indri Noor Hidayati
“Sesuatu
yang paling berharga di dunia ini ialah keikhlasan.”
(Yusuf bin
Husain Ar-Razi)
Lalu apakah itu ikhlas? Bagaimana bentuknya?
Ikhlas merupakan satu kata sederhana
yang memiliki banyak penafsiran. Bisa jadi tiap orang memiliki penafsiran yang
berbeda tentang pengertian ikhlas. Ada yang berpendapat bahwa ikhlas berarti
hanya mengharap balasan dari Allah. Ada pula yang berpendapat hanya memaksudkan
ketaatan kepada Allah, dan lain sebagainya. Pada hakikatnya yang dimaksud
adalah sama yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah.
“Sesungguhnya
Allah ‘Azza wa Jalla tidak menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan dengan
ikhlas dan ditujukan untuk mengharap wajah-Nya.”
(HR.
An-Nasa’i)
Lalu mudahkah ikhlas itu?
Abdullah bin Mutharrif berkata,
“Mengupayakan keikhlasan dalam amal sampai benar-benar ikhlas lebih sulit
daripada beramal itu sendiri.”
Walaupun ikhlas terlihat sepele, namun ternyata
pelaksanaannya cukup sulit, terutama bagi yang sudah mengukir otaknya dengan
tulisan “ikhlas itu sulit”. Sebab, keikhlasan akan menghalangi dirinya dari
keinginan-keinginan dan syahwatnya. Untuk mewujudkan dan mempertahankannya
dibutuhkan usaha yang besar.
Ats-Tsauri berkata, “Saya tidak pernah menangani
sesuatu yang lebih sulit daripada niat saya. Niat saya sering terbolak-balik.”
Bagaimana mengupayakan keikhlasan?
1.
Mengagungkan Allah sebagaimana mestinya
Segala nikmat adalah dari-Nya dan
segala kebaikan adalah dari kemurahan-Nya. Jika seorang hamba bisa berbuat
sesuatu, itu adalah berkat bantuan Allah. Apapun yang Dia kehendaki pasti
terjadi, sementara yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.
2.
Mempelajari hakikat keikhlasan
Yahya bin Abu Katsir menuturkan,
“Pelajarilah niat, sesungguhnya niat itu lebih sulit daripada amal!”
Al-Maqdisi menulis, “Duhai,
bagaimana akan baik niat seseorang yang tidak mengerti hakikat niat? Atau
bagaimana akan ikhlas seseorang yang membenarkan niat, jika ia tidak mengerti
hakikat ikhlas? Atau, bagaimana seseorang yang ikhlas menuntut dirinya untuk
tulus, jika ia tidak memahami dengan baik makna ketulusan? Kewajiban pertama
seorang hamba yang ingin menaati Allah adalah mengetahui terlebih dahulu apa
itu niat agar ia berma’rifah kepada-Nya. Lalu, barulah ia membenarkannya dengan
amal, setelah ia memahami hakikat ketulusan dan keikhlasan yang merupakan jalan
menuju keselamatan bagi seorang hamba.”
3.
Mengingat-ingat pahala ikhlas dan akibat tidak ikhlas
“Sesungguhnya kamu pasti akan
merasakan adzab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap
kejahatan yang telah kamu kerjakan, tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan
(dari dosa). Mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu, yaitu buah-buahan. Dan
mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam surga-surga yang penuh
nikmat, di atas takhta-takhta kebesaran berhadap-hadapan.” (QS. Ash-Shaaffaat :
38-44)
4.
Muraqabah dan mujahadah
Caranya dengan mengajukan pertanyaan
kepada diri sendiri sebelum beramal. Apakah yang diinginkan? Jika niatnya
benar, maka mulai beramal. Jika niatnya tidak benar, maka mesti diluruskan dulu
sebelum memasuki gerbang amal.
Umar berpesan, “Waspadalah terhadap
hasrat yang ada sebelum terjadi kesalahan. Sesungguhnya, hal itu adalah awal
dari kesalahan. Selain itu, janganlah kamu lupa kepada Allah sehubungan dengan
isi hati kalian.”
5.
Isti’anah atau memohon pertolongan kepada Allah
Caranya dengan menampakkan kebutuhan
kepada Allah, memperbanyak doa, dan tawassul kepada-Nya supaya diberi taufik
untuk ikhlas karena Allah adalah Zat yang mampu membolak-balikkkan hati dan
memalingkannya. Memohon pertolongan kepada-Nya adalah jalan terbaik untuk
menggapai keikhlasan dan menepis kebalikannya karena tidak ada daya dan kekuatan
untuk beribadah, kecuali dengan pertolongan Allah.
“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan
hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.: (QS. Al-Fatihah : 5)
6.
Memperbanyak amal ibadah
Setan ingin agar seorang hamba
meninggalkan amal ibadah sama sekali atau mengerjakannya tidak sebagaimana
mestinya.
Al-Hasan Al-Bashri berujar, “Jika
setan melihatmu dan mendapatimu konsisten di dalam menaati Allah, ia akan bosan
kepadamu dan berpaling darimu. Namun, jika kamu kadang-kadang taat dan
kadang-kadang melanggar, maka setan akan bersungguh-sungguh untuk
memperdayaimu.”
7.
Meninggalkan ujub dan meremehkan orang lain
Salah satu pintu masuk setan yang
paling lapang kepada seorang hamba ialah mendorongnya untuk melihat amalnya,
berbangga atasnya, dan berusaha supaya dilihat orang lain disaat melakukannya.
Padahal, berbangga atas amal atau ujub merupakan bentuk syirik, menyekutukan
Allah dengan diri sendiri.
“Mereka merasa telah memberi nikmat
kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah
memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang
melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu
adalah orang-orang yang benar". (QS. Al-Hujurat : 17)
8.
Berkawan dengan orang-orang yang baik
Rasulullah bersabda, “Seseorang itu
seakhlak dengan kawan dekatnya maka hendaklah setiap orang melihat siapa yang
menjadi kawan dekatnya. Perumpamanaan teman yang baik dan teman yang buruk
laksana pembawa minyak wangi dan peniup besi (pandai besi). Pembawa minyak wangi,
mungkin kamu membeli minyak wangi darinya atau kamu akan mendapati aroma
wanginya. Sedangkan peniup besi mungkin akan membakar pakaianmu atau kamu akan
mendapati aroma yang gosong.
9.
Meneladani orang-orang yang ikhlas
“Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS.
Al-Ahzab : 21)
10. Menjadikan
ikhlas sebagai tujuan
Banyak orang yang ingin ikhlas tapi
sedikit sekali yang bisa ikhlas. Jika ingin menjadi orang yang ikhlas
jadikanlah ikhlas sebagai tujuan yang senantiasa dikejar.
Sumber : Al-Ba’dani, Faishal bin Ali. 2007. Ikhlas,
sulitkah? Solo : Aqwam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar