Selasa, 17 Mei 2016

Kajian: Metode Pengasuhan Anak ala Rasulullah

Pelangi Pengasuhan Anak: Metode Pengasuhan Anak ala Rasulullah

Pemateri: Kurnia Widyastuti (Parenting Syangma Daya Insani)
Ditulis kembali oleh: dr. Riswan Febrianto
20 Maret 2016, Masjid Salman ITB


QS. Ali Imron: 110 adalah ayat yang sering kita salah artikan. Kita mengganggap yang disebut ‘kamu’ dalam kata pertama ayat tsb adalah menyebut kita ‘umat islam’ secara umum. Padahal bukan. Kita lihat redaksinya ‘kuntum khoiro ummati...’.
Sahabat Umar bin Khattab pernah mengoreksi masalah ini. Bahwa yang disebut sebagai umat terbaik dalam ayat tersebut adalah Kaum Muhajirin, bukan seluruh umat Islam. Itulah mengapa kata ganti yang digunakan adalah ‘kuntum’, bukan ‘antum’. Kaum Muhajirin lah yang patut berbangga. Tapi kemudian Umar bin Khattab menambahkan bahwa generasi penerus Rasulullah masih mampu menjadi ‘umat terbaik’ selama mau dan terus berusaha meneladani setiap perillaku Rasulullah.
Tidak akan pernah bisa lahir generasi kebangkitan islam masa depan jika kita tidak menduplikasi cara hidup Rasulullah.
Dan kebangkitan islam haruslah kita mulai dari sekarang, saat ini juga. Kita harus mulai mempersiapkan 3 momentum besar yang akan terjadi beberapa tahun lagi. 3 momentum tersebut yang harus kita jembatani adalah:
1.      Puncak Demografi Indonesia tahun 2025.
Berdasarkan studi demografi, diperkirakan jumlah penduduk berusia muda di Indonesia akan mencapai puncaknya pada tahun 2025. Artinya pada tahun tersebut jumlah penduduk berusia produktif akan sangat banyak, jauh lebih banyak dari penduduk anak-anak atau lansia. Momen ini sangat jarang terjadi. Momen ini harus kita manfaatkan. Generasi terbaik islam harus dididik mulai sekarang. Namun sayangnya momen ini justru di lihat oleh musuh-musuh islam. Generasi anak muda mulai dirusak. Di Kota Padang, jumlah PSK remaja semakin meningkat, begitu mudah germo mendapat PSK pelajar SMP, bahkan pelajar MTs. Apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dll. Kita bersama harus memperbaiki kerusakan seperti ini.
2.      Satu Abad Runtuhnya Khalifah Ustmaniyah.
Tahun 1924, kekhalifahan islam di Turki runtuh. Maka nanti 2024, 100 tahun setelahnya Allah akan turunkan seorang pemimpin penerus perjuangan.
“Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini di setiap awal 100 tahun, seseorang yang akan memperbaharui agama ini.” HR. Abu Dawud
3.      Generasi Emas Islam Indonesia tahun 2045.
Di negara kita Indonesia, tahun 2045 akan diperingati pula 100 tahun proklamasi RI. Sunnatullah itu akan terjadi pula di Indonesia.

Pengasuhan Anak adalah Prioritas Utama
Sebuah kisah nyata, ada seorang Pak Dokter yang menikah dengan Pengacara. Pernikahan mereka tampak bahagia, harmonis meski dua-duanya sangat sibuk bekerja. Hingga suatu hari mereka dikaruniai seorang bayi, Alifah namanya. Suatu hari Alifah yang sudah menjadi balita, sedang menderita sakit. Dia menangis minta dimandikan oleh ibunya, tapi ternyata ibunya lebih memilih karir. Dia meninggalkan Alifah dengan pembantunya saja karena sudah ada jadwal membuka kantor cabang pengacara miliknya. Tak lama kemudian pengacara tersebut mendapatkan telpon bahwa Alifah telah meninggal di saat dia baru saja meresmikan kantor barunya. Akhirnya pengacara tadi benar-benar memandikan Alifah, Alifah yang sudah meninggal dunia.
Keberhasilan sahabat dalam menjadi generasi terbaik adalah karena senantiasa menceritakan sosok Rasulullah kepada anak-anak mereka, bahkan sepeninggal Rasulullah. Ceritakanlah Rasulullah seolah-olah menceritakan hikayat.
Waktu-waktu kebersamaan bersama anak sangatlah berharga, jangan lewatkan setiap momennya.
Rasulullah telah menjelaskan dalam haditsnya tentang pembagian 4 fase pendidikan seorang anak. Dipermudah dengan penggunaan warna oleh pemateri untuk pengingat dan penjelasan.
1.      7 tahun pertama (merah)
Merah artinya berhenti. Orang tua jangan mudah marah, orang tua jangan memaksa anak untuk bergegas-gegas ketika akan pergi, dsb. Pada fase ini yang harus menahan adalah orang tua.
2.      7 tahun kedua (kuning)
Mulai persiapan untuk melaju. Orang tua harus sangat berhati-hati. Harus memberi bekal sebanyak mungkin. Ini adalah zona persiapan sebelum anak mulai ‘berangkat’.
3.      7 tahun ketiga (hijau)
Anak sudah boleh ‘jalan’. Anak sudah mnjadi duta bagi keluarga, bangsa, dan agama.
4.      7 tahun ke empat (biru)
Anak sudah siap ‘terbang’. Anak sudah menjadi seperti kita, siap menjadi orang tua.

Mari kita bahas lebih rinci satu-persatu, inshaa Allah.

Zona Merah (Perlakukan Anak seperti Raja)
Anak harus dilayani. Diperlakukan penuh hormat dan sayang. Perlakukan sebagai raja yang dihormati, bukan dimanjakan. Ada sebuah contoh nyata yang diketahui pemateri dari seorang ibu. Ibu ini begitu sabar menemani anaknya di sebuah mall. Ketika akan masuk ke toilet, ibu menjelaskan sebelum masuk ke toilet kita harus melihat tanda di pintu terlebih dahulu. Harus dibedakan agar tidak salah masuk. Jika banyak yang mau masuk kita juga harus antri. Dengan penuh pengertian ibu tersebut juga menanyakan kpd anaknya, siapa yang mau pipis terlebih dahulu? Saat anaknya meminta didahulukan, ibu tersebut juga mengalah. Selesai buang air kecil, ibu tersebut mengajarkan pula bagaimana menggunakan air, menggunakan blower, bahwa itu milik umum dan bukan untuk mainan. Mungkin terlihat sederhana. Tetapi dari sekedar toilet, anak kecil tadi bisa belajar tentang jenis kelamin, tentang kesabaran ketika mengantri, tentang penghormatan terhadap fasilitas umum agar tidak disia-siakan. Sementara saat ini mungkin banyak orang tua yang melepas anaknya, menganggap anaknya sudah bisa ke toilet sendiri.
Saat ini  banyak orang tua salah memperlakukan anak sesuai zona nya. Ada orang tua yang memaksa anak untuk bergegas, untuk teratur dalam segala hal padahal anaknya masih kecil. Sebaliknya ada orang tua yang sering mengingatkan anaknya jangan lupa sholat, jangan lupa makan, dsb padahal anaknya sudah kuliah.
Ingatlah wahai ayah-bunda, ada 250.000 sel otak anak mati per detiknya karena amarah orang tua, akibat orang tua yang sering marah-marah kepada anaknya.

Kisah nyata yang dialami pemateri:
Ketika baru menikah, beliau belum memahami ilmu ini sehingga setiap kali akan berangkat bekerja dan putranya menangis, beliau selalu memarahi anaknya tersebut sambil menjelaskan bahwa pasti sepulang kerja akan kembali ke rumah. Lalu apa akibatnya? Semasa pertumbuhannya, putra beliau gagap, tidak begitu lancar ketika berbicara. Hingga beliau dengan penuh kesabaran mengobatinya dan sekarang sudah lancar dalam berbicara. Alhamdulillah.
Kita harus memahami bahwa anak kecil menangis ketika kita akan pergi adalah karena mereka mengira kita akan pergi selamanya. Maka bersikaplah bijak, sebelum berangkat ajak anak kecil anda berbicara baik- baik dengan penuh perhatian dan pemahaman misal dengan mengatakan, “Ibu pergi cuma sebentar kok nak, inshaa Allah nanti kembali lagi buat main sama adek. Jadi adek sabar dulu ya, main dulu sama bibi.”

Zona Kuning (Fase Pembelajaran bagi Anak Menjadi Asisten (pembantu orang tua) dan Tawanan Perang)
Fase ini adalah masa seorang anak mengalami akil baligh. Akil =matang secara kejiwaan, secara mental. Baligh = matang secara jasmani (mimpi basah, menstruasi).
Tapi jaman sekarang anak-anak mengalami baligh lebih dahulu daripada akilnya sehingga anak di fase ini harus mulai diperkenalkan amanah atas ‘kemaluan’.
Bekali pendidikan etika dan edukasi sex islami. Jika anak putra mengalami mimpi basah, ayah harus bisa menjelaskan. Jika anak putri mengalami menstruasi, ibu harus bisa menjelaskan.
Pada fase ini ajarkan juga ketrampilan domestik seperti mencuci piring, gelas, sendok, dsb. Juga jenis ketrampilan rumah tangga lain. Bukan bermaksud mendidik anak untuk jadi pembantu, tetapi ini bertujuan melatih anak memiliki sistematika berpikir yang baik. Cuci piring dengan piring, gelas dengan gelas dst.
Sehingga kelak anak dapat mengelompokkan semua masalah yang ditemui, anak akan memiliki skala prioritas yang baik. Jangan lupa setelah mencuci piring sampaikan terima kasih dan doakan anak mu agar mereka tetap merasa dihargai sebagai seorang anak, bukan pembantu.
Ajarkan pula manajemen keuangan sederhana. Kita dapat belajar dari Rasulullah. Rasulullah pernah mengajak Ali ketika masih kecil ke pasar. Rasulullah hendak membeli baju, ketika ditawari baju seharga 8 dinar, Rasul menolaknya dan membeli yang seharga 2 dinar. Dalam perjalanan pulang mereka bertemu gelandangan yang kedinginan, Rasul kemudian menawarkan kepada para sahabat siapa yang menginginkan pakaian surga maka berikanlah sebuah pakaian kepada gelandangan tadi. Ada sahabat yang memberikan pakaiannya, kemudian mendapat ganti berupa baju seharga 2 dinar yang baru dibeli Rasulullah. Masih dalam perjalanan, mereka bertemu pengemis yang kelaparan, Rasulullah kemudian memberikan 2 dinarnya agar dibelikan makanan. Terakhir di perjalanan tersebut Rasulullah menemui budak yang kemudian dibebaskan oleh Rasulullah dengan 4 dinar sisanya. Di akhir perjalanan, Rasulullah katakan kepada Ali kecil, betapa barokahnya uang 8 dinar yang kita miliki.
Di fase ini ajarkan anak untuk menjadi anak yang amanah, cinta bersih, rapi, teratur, terencana.
Jangan lupa juga di fase ini anak harus mulai dipanggil untuk sholat. Ada 5475 panggilan sholat. Dari hasil perhitungan 5x sehari dikalikan 365 hari dikalikan 3 tahun. Setelah berumur 10 tahun, anak yang tidak mau sholat boleh dipukul.

Zona Hijau (Anak sebagai Duta Keluarga, Visioner Masa Depan)
Orang tua harus bisa mnjaga cita-cita anaknya. Sebuah kisah yang bisa kita ambil pelajaran.
Ada seorang anak yang sejak kecil memiliki banyak cita-cita. Saat TK anak tsb bercita-cita menjadi astronot. Orang tua nya mendukungnya agar kelak bisa mendarat di bulan. Saat SD anak tsb bercita-cita menjadi pemain bola. Orang tuanya mendukungnya agar kelak bisa bermain bola di bulan. Saat SMP anak tsb bercita-cita menjadi ahli bahasa. Orang tuanya juga tetap mendukungnya agar kelak bisa menguasai bahasa seluruh negara di dunia, bahkan jika perlu mempelajari bahasa alien, bahasa hewan, tumbuhan dsb. Hingga ketika SMA anak tsb bercita-cita menjadi pengusaha. Orang tuanya sangat menyetujuinya. Karena jika menginginkan semua hal tadi, anak tadi harus memiliki modal yang sangat besar. Dan tahukah anda siapa anak tadi? Menjadi apa dia kemudian? Dia adalah pendiri dan pemilik Discovery Channel. Channel raksasa di dunia yang memiliki cabang di banyak negara dengan acara yang sangat beragam. Mulai dari kehidupan satwa liar, pelestarian alam, tekhnologi terbaru, hingga acara tentang luar angkasa.

Zona Biru (Membentuk Keluarga Baru)
Kesiapan membina keluarga. Mulai ajarkan kepada anak kita agar bersiap untuk menikah.

Semoga bermanfaat.

Materi  dapat diunduh pada link di bawah ini:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar