Pelangi Pengasuhan Anak: Metode Pengasuhan Anak ala Rasulullah
Pemateri: Kurnia Widyastuti (Parenting Syangma Daya Insani)
Ditulis
kembali oleh: dr. Riswan
Febrianto
20
Maret 2016, Masjid Salman ITB
QS.
Ali Imron: 110 adalah ayat yang sering kita salah artikan. Kita mengganggap
yang disebut ‘kamu’ dalam kata pertama ayat tsb adalah menyebut kita ‘umat
islam’ secara umum. Padahal bukan. Kita lihat redaksinya ‘kuntum khoiro ummati...’.
Sahabat
Umar bin Khattab pernah mengoreksi masalah ini. Bahwa yang disebut sebagai umat
terbaik dalam ayat tersebut adalah Kaum Muhajirin, bukan seluruh umat Islam.
Itulah mengapa kata ganti yang digunakan adalah ‘kuntum’, bukan ‘antum’. Kaum
Muhajirin lah yang patut berbangga. Tapi kemudian Umar bin Khattab menambahkan
bahwa generasi penerus Rasulullah masih mampu menjadi ‘umat terbaik’ selama mau
dan terus berusaha meneladani setiap perillaku Rasulullah.
Tidak
akan pernah bisa lahir generasi kebangkitan islam masa depan jika
kita tidak menduplikasi cara hidup Rasulullah.
Dan
kebangkitan islam haruslah kita mulai dari sekarang, saat ini juga. Kita harus
mulai mempersiapkan 3 momentum besar yang akan terjadi beberapa tahun lagi. 3
momentum tersebut yang harus
kita jembatani adalah:
1.
Puncak
Demografi Indonesia tahun
2025.
Berdasarkan
studi demografi, diperkirakan jumlah penduduk berusia muda di Indonesia akan
mencapai puncaknya pada tahun
2025. Artinya pada tahun tersebut jumlah penduduk berusia produktif akan sangat
banyak, jauh lebih banyak dari penduduk anak-anak atau lansia. Momen ini sangat
jarang terjadi. Momen ini harus kita manfaatkan. Generasi terbaik islam harus
dididik mulai sekarang. Namun sayangnya momen ini justru di lihat oleh
musuh-musuh islam. Generasi anak muda mulai dirusak. Di Kota Padang, jumlah PSK
remaja semakin meningkat, begitu mudah germo mendapat PSK pelajar SMP, bahkan
pelajar MTs. Apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dll. Kita
bersama harus memperbaiki kerusakan seperti ini.
2.
Satu
Abad Runtuhnya Khalifah Ustmaniyah.
Tahun 1924, kekhalifahan islam di
Turki runtuh. Maka nanti 2024, 100 tahun setelahnya Allah akan turunkan seorang
pemimpin penerus perjuangan.
“Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk
umat ini di setiap awal 100 tahun, seseorang yang akan memperbaharui agama
ini.” HR. Abu Dawud
3.
Generasi
Emas Islam Indonesia tahun 2045.
Di
negara kita Indonesia, tahun 2045 akan diperingati pula 100
tahun proklamasi RI. Sunnatullah itu akan terjadi pula di Indonesia.
Pengasuhan Anak adalah Prioritas Utama
Sebuah
kisah nyata, ada seorang Pak Dokter yang menikah dengan Pengacara. Pernikahan
mereka tampak bahagia, harmonis meski dua-duanya sangat sibuk bekerja. Hingga
suatu hari mereka dikaruniai seorang bayi, Alifah namanya. Suatu hari Alifah yang
sudah menjadi balita, sedang menderita sakit. Dia menangis minta dimandikan
oleh ibunya, tapi ternyata ibunya lebih memilih karir. Dia meninggalkan Alifah dengan
pembantunya saja karena sudah ada jadwal membuka kantor cabang pengacara
miliknya. Tak lama kemudian pengacara tersebut mendapatkan telpon bahwa Alifah
telah meninggal di saat dia baru saja meresmikan kantor barunya. Akhirnya
pengacara tadi benar-benar memandikan Alifah, Alifah yang sudah meninggal
dunia.
Keberhasilan
sahabat dalam menjadi generasi terbaik adalah karena senantiasa menceritakan
sosok Rasulullah kepada anak-anak mereka, bahkan sepeninggal Rasulullah.
Ceritakanlah Rasulullah seolah-olah menceritakan hikayat.
Waktu-waktu
kebersamaan bersama anak sangatlah berharga, jangan lewatkan setiap momennya.
Rasulullah
telah menjelaskan dalam haditsnya tentang pembagian 4 fase pendidikan seorang
anak. Dipermudah dengan penggunaan warna oleh pemateri untuk pengingat dan
penjelasan.
1.
7 tahun pertama (merah)
Merah
artinya berhenti. Orang tua jangan mudah marah, orang tua jangan memaksa anak
untuk bergegas-gegas ketika akan pergi, dsb. Pada fase ini yang harus menahan
adalah orang tua.
2.
7
tahun kedua (kuning)
Mulai
persiapan untuk melaju. Orang tua harus sangat berhati-hati. Harus memberi
bekal sebanyak mungkin. Ini adalah zona persiapan sebelum anak mulai ‘berangkat’.
3.
7
tahun ketiga (hijau)
Anak
sudah boleh ‘jalan’. Anak sudah mnjadi duta bagi keluarga, bangsa, dan agama.
4.
7
tahun ke empat (biru)
Anak sudah siap
‘terbang’. Anak sudah menjadi seperti kita, siap menjadi orang tua.
Mari kita bahas lebih rinci
satu-persatu, inshaa Allah.
Zona
Merah (Perlakukan Anak seperti Raja)
Anak harus dilayani. Diperlakukan penuh
hormat dan sayang. Perlakukan sebagai raja yang dihormati, bukan dimanjakan.
Ada sebuah contoh nyata yang diketahui pemateri dari seorang ibu. Ibu ini
begitu sabar menemani anaknya di sebuah mall. Ketika akan masuk ke toilet, ibu
menjelaskan sebelum masuk ke toilet kita harus melihat tanda di pintu terlebih
dahulu. Harus dibedakan agar tidak salah masuk. Jika banyak yang mau masuk kita
juga harus antri. Dengan penuh pengertian ibu tersebut juga menanyakan kpd
anaknya, siapa yang mau pipis terlebih dahulu? Saat anaknya meminta
didahulukan, ibu tersebut juga mengalah. Selesai buang air kecil, ibu tersebut mengajarkan
pula bagaimana menggunakan air, menggunakan blower, bahwa itu milik umum dan
bukan untuk mainan. Mungkin terlihat sederhana. Tetapi dari sekedar toilet,
anak kecil tadi bisa belajar tentang jenis kelamin, tentang kesabaran ketika
mengantri, tentang penghormatan terhadap fasilitas umum agar tidak
disia-siakan. Sementara saat ini mungkin banyak orang tua yang melepas anaknya,
menganggap anaknya sudah bisa ke toilet sendiri.
Saat ini banyak orang tua salah memperlakukan
anak sesuai zona nya. Ada orang tua yang memaksa anak untuk bergegas, untuk
teratur dalam segala hal padahal anaknya masih kecil. Sebaliknya ada orang tua yang
sering mengingatkan anaknya jangan lupa sholat, jangan lupa makan, dsb padahal
anaknya sudah kuliah.
Ingatlah wahai ayah-bunda, ada 250.000
sel otak anak mati per detiknya karena amarah orang tua, akibat orang tua yang
sering marah-marah kepada anaknya.
Kisah nyata yang dialami pemateri:
Ketika baru menikah, beliau belum
memahami ilmu ini sehingga setiap kali akan berangkat bekerja dan putranya
menangis, beliau selalu memarahi anaknya tersebut sambil menjelaskan bahwa
pasti sepulang kerja akan kembali ke rumah. Lalu apa akibatnya? Semasa
pertumbuhannya, putra beliau gagap, tidak begitu lancar ketika berbicara.
Hingga beliau dengan penuh kesabaran mengobatinya dan sekarang sudah lancar dalam
berbicara. Alhamdulillah.
Kita harus memahami bahwa anak kecil
menangis ketika kita akan pergi adalah karena mereka mengira kita akan pergi
selamanya. Maka bersikaplah bijak, sebelum berangkat ajak anak kecil anda berbicara
baik- baik dengan penuh perhatian dan pemahaman misal dengan mengatakan, “Ibu
pergi cuma sebentar kok nak, inshaa Allah nanti kembali lagi buat main sama
adek. Jadi adek sabar dulu ya, main dulu sama bibi.”
Zona
Kuning (Fase Pembelajaran bagi Anak Menjadi Asisten (pembantu orang tua) dan
Tawanan Perang)
Fase ini adalah masa seorang anak
mengalami akil baligh. Akil =matang secara kejiwaan, secara
mental. Baligh = matang secara jasmani
(mimpi basah, menstruasi).
Tapi jaman sekarang anak-anak
mengalami baligh lebih dahulu daripada akilnya sehingga anak di fase ini harus mulai
diperkenalkan amanah atas ‘kemaluan’.
Bekali pendidikan etika dan edukasi sex islami. Jika anak putra mengalami mimpi basah, ayah harus bisa menjelaskan. Jika anak putri mengalami menstruasi, ibu harus bisa menjelaskan.
Bekali pendidikan etika dan edukasi sex islami. Jika anak putra mengalami mimpi basah, ayah harus bisa menjelaskan. Jika anak putri mengalami menstruasi, ibu harus bisa menjelaskan.
Pada fase ini ajarkan juga
ketrampilan domestik seperti mencuci piring, gelas, sendok, dsb. Juga jenis
ketrampilan rumah tangga lain. Bukan bermaksud mendidik anak untuk jadi
pembantu, tetapi ini bertujuan melatih anak memiliki sistematika berpikir yang
baik. Cuci piring dengan piring, gelas dengan gelas dst.
Sehingga kelak anak dapat
mengelompokkan semua masalah yang ditemui, anak akan memiliki skala prioritas yang
baik. Jangan
lupa setelah mencuci piring sampaikan terima kasih dan doakan anak mu agar
mereka tetap merasa dihargai sebagai seorang anak, bukan pembantu.
Ajarkan pula manajemen keuangan
sederhana. Kita dapat belajar dari Rasulullah. Rasulullah pernah mengajak Ali
ketika masih kecil ke pasar. Rasulullah hendak membeli baju, ketika ditawari
baju seharga 8 dinar, Rasul menolaknya dan membeli yang seharga 2 dinar. Dalam
perjalanan pulang mereka bertemu gelandangan yang kedinginan, Rasul kemudian
menawarkan kepada para sahabat siapa yang menginginkan pakaian surga maka berikanlah
sebuah pakaian kepada gelandangan tadi. Ada sahabat yang memberikan pakaiannya,
kemudian mendapat ganti berupa baju seharga 2 dinar yang baru dibeli
Rasulullah. Masih dalam perjalanan, mereka bertemu pengemis yang kelaparan,
Rasulullah kemudian memberikan 2 dinarnya agar dibelikan makanan. Terakhir di
perjalanan tersebut Rasulullah menemui budak yang kemudian dibebaskan oleh
Rasulullah dengan 4 dinar sisanya. Di akhir perjalanan, Rasulullah katakan
kepada Ali kecil, betapa barokahnya uang 8 dinar yang kita miliki.
Di fase ini ajarkan anak untuk
menjadi anak yang amanah, cinta bersih, rapi, teratur, terencana.
Jangan lupa juga di fase ini anak
harus mulai dipanggil untuk sholat. Ada 5475 panggilan sholat. Dari hasil
perhitungan 5x sehari dikalikan 365 hari dikalikan 3 tahun. Setelah berumur 10
tahun, anak yang tidak mau sholat boleh dipukul.
Zona Hijau (Anak sebagai Duta Keluarga, Visioner Masa Depan)
Orang tua harus bisa mnjaga
cita-cita anaknya. Sebuah
kisah yang bisa kita ambil pelajaran.
Ada seorang anak yang sejak kecil
memiliki banyak cita-cita. Saat
TK anak tsb bercita-cita menjadi astronot. Orang tua nya mendukungnya agar
kelak bisa mendarat di bulan. Saat SD anak tsb bercita-cita menjadi pemain bola.
Orang tuanya mendukungnya agar kelak bisa bermain bola di bulan. Saat SMP anak
tsb bercita-cita menjadi ahli bahasa. Orang tuanya juga tetap mendukungnya agar
kelak bisa menguasai bahasa seluruh negara di dunia, bahkan jika perlu
mempelajari bahasa alien, bahasa hewan, tumbuhan dsb. Hingga ketika SMA anak tsb
bercita-cita menjadi pengusaha. Orang tuanya sangat menyetujuinya. Karena jika
menginginkan semua hal tadi, anak tadi harus memiliki modal yang sangat besar.
Dan tahukah anda siapa anak tadi? Menjadi apa dia kemudian? Dia adalah pendiri
dan pemilik Discovery Channel. Channel raksasa di dunia yang memiliki cabang di
banyak negara dengan acara yang sangat beragam. Mulai dari kehidupan satwa
liar, pelestarian alam, tekhnologi terbaru, hingga acara tentang luar angkasa.
Zona
Biru (Membentuk Keluarga Baru)
Kesiapan membina keluarga. Mulai
ajarkan kepada anak kita agar bersiap untuk menikah.
Semoga bermanfaat.
Materi dapat diunduh pada link di bawah ini:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar