Rabu, 25 Mei 2016

FIGUR MUSLIM: UMAR BIN KHATTAB



TELADAN KEADILAN UMAR BIN KHATTAB
Ditulis Kembali Oleh: RF

‘Adl (Adil) dalam berbagai bentuk terulang sebanyak 28 kali dalam Al-Quran. Dalam bahasa arab, adil/al-‘adl adalah bentuk mashdar dari kata ‘adala-yadilu. Lawan dari kata ini adalah zhalim. Arti dasar dari al-‘ald adalah  persamaan (al-masawah) atau pertengahan dari dua sisi yang berlawanan.
 Dalam Al-Quran adil dipadankan dengan kata –kata al-‘adl, al-qisth, dan al-mizan. Dalam firman ALLAH;
“…. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah ALLAH) maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil..”

Justice without force is important, force without justice is tyranny (Blaise pascal; 1823-1862)

Abu Utsman berkata, “ Umar mempekerjakan seseorang dari Bani Asad untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Orang tersebut masuk ke dalam rumah Umar untuk mengucapkan salam kepadanya. Ia datang dengan membawa anaknya, lalu umar menciumnya, laki-laki tersebut berkata,  “Apakah engkau mencium anakmu, wahai Amirul Mukminin? Demi ALLAH, aku tidak pernah mencium anakku. Umar berkata, “Kamu adalah orang yang memiliki sedikit sekali kasih sayang kepada anak-anak. Selamanya kamu tidak usah bekerja untukku” Umar membatalkan perjanjiannya.
Di dalam riwayat lain, Umar berkata apakah dosaku jika ALLAh telah mencabut rasa sayang dari mu. Sesungguhnya ALLAH hanya menyayangi hamba-Nya yang penyayang. Kemudian Umar berkata “Sobeklah surat perjanjian ini karena jika Kamu tidak menyayangi anak-anakmu, bagaimana Kamu menyayangi rakyatmu?”
Suatu hari umar menerima hadiah berupa manisan. Ketika manisan itu hendak diletakkan dihadapannya, ia bertanya kepada utusan yang membawanya, “Apakah ini?”,  Utusan menjawab “Manisan yang dibuat oleh orang-orang Azerbaijan, Atabah bin farqad (gubernur Azerbaijan) telah mengutusku untuk mengirimkannya kepadamu”, Umar mencicipinya dan merasakan kelezatan yang luar biasa. Umar bertanya lagi “Apakah semua umat islam disana memakan manisan ini?”,  Ia menjawab, “Tidak. Ini adalah makanan untuk orang-orang khusus”,  Umar berkata “Dimana untamu? Ambillah ini dan bawalah kepada atabah”, lalu katakan kepadanya bahwa umar berkata kepadanya “Bertakwalah kepada ALLAH dan kenyangkanlah kaum muslim dengan makanan yang mengenyangkanmu.”
Pada masa paceklik, umar meminta kepada pembantunya agar disembelihkan unta lalu dagingnya dibagi-bagikan kepada penduduk madinah. Ketika akan makan siang, umar menemukan punuk unta dan hati di depannya. Kedua bagian tubuh unta ini dikenal sebagai bagian yang paling enak. Umar bertanya, “dari mana ini?” Seseorang menjawab “Dari unta yang disembelih pada hari ini”,  Umar berkata “Betapa buruknya aku sebagai penguasa jika aku memakan bagian yang baik darinya dan meninggalkan yang baik darinya dan meninggalkan tulang-tulangnya untuk rakyat!”  umar lantas memanggil pembantunya, “Wahai Aslam, angkatlah mangkuk besar ini dan berikanlah roti dan minyak kepadaku!” 
Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa suatu ketika kaisar Romawi mengirim utusan kepada Umar bin Khattab untuk melihat dan menyaksikan keadaan serta aktivitasnya secara langsung. Setelah sampai di madinah, ia bertanya kepada penduduknya, Dimanakah Raja kalian?” mereka menjawab, “Kami tidak memiliki raja. Tetapi Kami memiliki pemimpin yang pada saat ini berada di tanah lapang Madinah”
Utusan itu pergi untuk mencari Umar bin Khattab, ia menemukannya tertidur di atas padang pasir dan di bawah terik matahari yang membakar. Jubahnya ia gunakan sebagai bantal, sementara tubuhnya bercucuran keringat sehingga membasah tanah. Setelah melihatnya dalam keadaan ini, ia menjadi terharu dan berkata, “Ini adalah laki-laki yang ditakuti para raja padahal keadaanya seperti ini. Namun engkau wahai umar, berbuat adil, lalu memebrikan keamanan, dan tidur dengan nyaman. Adapun raja kami berbuat zhalim, ia selalu begadang dan merasa ketakutan. Aku bersaksi bahwa agamamu adalah agama yang benar. Andaikan aku tidak datang kepadamu sebagai utusan, aku akan masuk islam. Akan tetapi, aku wajib kembali dan menyerahkan diri.    

Kamis, 19 Mei 2016

Kajian: Mewariskan Generasi Surga buat Indonesia


Majlis Quran, 15 Mei 2016, Lap. PTPN Jember
Mewariskan Generasi Surga buat Indonesia
Kajian oleh Ust. Marendra Darwis
Ditulis kembali oleh dr. Riswan Febrianto

Hari ini kita dihadapkan dengan generasi Indonesia yang mengerikan. Kasus pemerkosaan bergerombolan yang diikuti pembunuhan (kasus YY) di Bengkulu, kemudian di Surabaya ada geng anak-anak SD-SMP yang beramai-ramai mencabuli 1 siswi SMP menjadi cerminan seperti apa generasi muda Indonesia hari ini. 2 kasus tersebut ibarat fenomena gunung es, hanya sedikit yang terungkap sementara masih banyak kasus yang tidak terekspos media.
Ada lagi anak kelas 6 SD (12 th) yang dikeluarkan sekolah karena MBA. Tidak hanya penyakit jasmani yang ‘memuda’, penyakit ruhani juga semakin menyerang remaja, bahkan anak-anak. Di Kediri juga ada kasus incest, kakaknya perempuan kelas 2 SMA berhubungan intim dengan adiknya yang laki-laki kelas 3 SMP. Parahnya, hubungan tersebut dilakukan tanpa pengaruh alkohol, dalam kondisi kesadaran penuh dan beberapa kali. Ternyata ayahnya bekerja di Brunei, sementara ibu di Malaysia. Mereka berdua tinggal bersama neneknya di rumah yang terpisah. Ada lagi kasus anak SD yang kedapatan membawa buku bergambar porno ke sekolah. Ketika ditanya dapat dari mana buku tersebut?, dengan santai sang anak menjawab, “Aku ambil dari kamar bapak.” Padahal syariat telah mengajarkan pula bahwa seorang anak tidak boleh memasuki kamar orang tuanya pada 3 waktu, yaitu shubuh, dhuhur, & isya’. Sekali lagi, itu hanya kasus yang terungkap, bagaimana dengan kasus-kasus lain yang tidak terungkap?? Ada berapa banyak kasus sejenis lainnya?? Sudah seberapa parah kerusakan generasi muda kita??
Kenyataan hari ini begitu menakutkan! Seolah-olah kehancuran generasi masa depan Indonesia sudah sangat jelas. Relakah kita jika kelak ada guru-guru sejarah bercerita, “Dahulu ada negara bernama Indonesia.” ?? Melihat kerusakan generasi muda Indonesia saat ini, bukan tidak mungkin jika kelak negara kita akan hilang. Contoh lain sudah ada Uni Soviet, Cekoslovakia, dll.
Salah satu diantara penyebab kehancuran generasi saat ini adalah karena adanya ‘agama’ baru yang dikenal dengan nama ‘medsos’. Memang tidak semua yang berkaitan dengan medsos itu buruk, tetapi pengaruh buruk media sosial begitu mudah masuk ke dalam rumah-rumah umat muslim hari ini. Mulai pornografi, pemikiran-pemikiran sesat, interaksi yang berlebihan antara lawan jenis (pacaran), dan begitu banyak dampak negatif lain dapat menyebar melalui medsos. Selain itu, dalam salah satu penelitian disebutkan bahwa hari ini orang-orang menghabiskan 6-7 jam waktunya di depan layar gadgetnya.
Allah berfirman dalam Al Quran surah Maryam: 59 “Kemudian datanglah setelah mereka, pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti keinginannya, maka mereka kelak akan tersesat.”
Allah telah mengingatkan bahwa kelak akan ada generasi dengan ciri-ciri: 1. meninggalkan sholat; 2. mengikuti hawa nafsu, dan Allah tegaskan bahwa generasi itu kelak akan tersesat. Apakah ini generasi Indonesia saat ini? Semoga bukan...
Sebaliknya, Allah juga berfirman dalam QS. Al Kahfi: 13. “Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka,”
Pertanyaannya kemudian adalah, generasi seperti apakah yang kelak kita wariskan? Generasi seperti yang disebutkan dlm QS. Maryam: 59 atau generasi seperti yang disebut dlm QS. Al Kahfi: 13?
Bagaimana cara agar kelak terwariskan generasi surga bagi negara kita? Allah telah menjawabnya dalam QS. Maryam: 60, yang merupakan lanjutan QS. Maryam: 59. Allah berfirman dlm QS. Maryam: 60, “kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan kebajikan, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dizalimi (dirugikan) sedikitpun.”
Perbaikan generasi setidaknya melibatkan 4 unsur. Keluarga, sekolah, masyarakat, serta anak itu sendiri. Keluarga sebagai lini pertama harus menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak-anak sejak kecil. Ibu & ayah memiliki peran vital dalam unsur ini. Sekolah sbg lembaga pendidikan formal, guru-guru harus bekerja sama, berkoordinasi dengan orang tua dalam hal pendidikan bagi anak-anak. Masyarakat sbg tempat dimana anak-anak melakukan interaksi sosial secara luas juga harus menciptakan lingkungan tumbuh yang baik. Terakhir dari pribadi anak itu sendiri harus memiliki kepribadian islami yang kuat sehingga mampu dengan tegas membedakan kebaikan & keburukan.
Perbaikan generasi ini merupakan tugas kita bersama. Apakah karena keluarga kita baik-baik saja, tidak mengalami kerusakan moral kemudian kita lantas diam saja? Ingatlah bahwa dlm sebuah hadits Rasulullah pernah mengisyaratkan, bahwa suatu umat adalah segerombolan penumpang yang sedang menaiki kapal. Kemudian di antara seluruh penumpang, ada penumpang di bagian kapal paling bawah yang kehausan dan berusaha melubangi kapal agar mendapat air untuk diminum. Lalu apakah penumpang lain bisa diam saja? Tentu tidak. Karena ketika penumpang lain diam saja, maka seluruh penumpang kapal akan tenggelam semuanya tanpa terkecuali meski penumpang lain tidak ikut merusakkan kapal. Begitu pula kondisi umat saat ini, jika ada kerusakan di satu sisi maka yang lain juga harus berusaha memperbaikinya. Perahu kita ‘Indonesia’ saat ini sedang berusaha dilubangi oleh banyak orang di berbagai sisi, maka tidak ada jalan lain bagi kita kecuali kita harus menghentikan para perusak itu dan memperbaiki kerusakan-kerusakan yang sudah ada. Ingatlah pesan Ali bin Abi Thalib ra. bahwa kejahatan yang terstruktur dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terstruktur. Kemaksiatan terjadi bukan karena dahsyatnya kemaksiatan itu, tapi karena diamnya orang-orang baik.
Harapan itu selalu ada bagi kita untuk membenahi anak muda.

IMEDFEST: ISLAMIC MEDICAL FESTIVAL



Apa itu Generasi Rabbani ???
Ditinjau dari tinjauan bahasa, Ibnul Anbari menjelaskan bahwa, kata ‘rabbani’ diambil dari kata dasar Rabb, yang artinya Sang Pencipta dan Pengatur makhluk, yaitu Allah. Kemudian diberi imbuhan huruf alif dan nun (rabb+alif+nun= Rabbanii), untuk memberikan makna hiperbol. Dengan imbuhan ini, makna bahasa ‘rabbani’ adalah orang yang memiliki sifat yang sangat sesuai dengan apa yang Allah harapkanKata ‘rabbani’ merupakan kata tunggal, untuk menyebut sifat satu orang. Sedangkan bentuk jamaknya adalah rabbaniyun.
Perkataan ribbiyy dan rabbaniyy merujuk pada segolongan manusia yang mempunyai ilmu yang luas lagi mendalam berkenaan dengan agama. Dengan bekal ilmunya, ia tak pernah berhenti beramal demi mencari keridhaan Allah SWT. Selain itu, iapun mampu menjalankan amar ma’ruf nahi munkar,dengan penuh kesabaran serta istiqamah. Dalam Al Qur’an Allah SWT menyebut tentang golongan ini dalam beberapa tempat, semisal : Surat Ali `Imran ayat 146 ; Surat Al Maa-idah, ayat 44 ; Surat Al Maa-idah, ayat 43 ; Surat Ali ‘Imran ayat 7 ; dan Surat Ali `Imran, ayat 79. Sibawaih, seorang ahli bahasa berpendapat : jika huruf alif dan nun ditambahkan pada perkataan ribbiyy, lalu menjadi rabbaniyy, menunjukkan mereka adalah golongan yang sangat mendalam ilmunya mengenai ketuhanan ( Lisan al Arab ).
Kelahiran generasi rabbani menjadi mungkin, jika umat tetap berpegang pada Al Qur’an dan Al Hadits. Diperlukan pula banyaknya murabbi yang mempunyai keluasan dan kedalaman ilmu. Disamping itu, generasi rabbani akan terlahir jika banyak keluarga telah mencapai derajar sakinah, institusi pendidikan, masyarakat serta negara berkomitmen penuh atas tegaknya dakwah Islamiyyah. Usaha melahirkan kembali generasi ini di akhir jaman, merupakan ikhtiar suci yang memerlukan pengorbanan diri, waktu dan harta.




Melalui tema “Generasi Rabbani: Investasi Emas untuk Masa Depan”, IMedFest yang dilaksanakan pada hari Ahad, 6 Maret 2016 menjadi salah satu pintu gerbang untuk mencetak generasi rabbani dengan menularkan dan meningkatkan semangat dakwah kepada khalayak umum. Acara yang dilaksanakan di Gedung Soetardjo UNEJ ini terdiri atas dua kegiatan yaitu Talkshow Inspiratif dan Kompetisi Rabbani berupa lomba membuat cerita pendek Islami dan poster public yang telah diadakan beberapa hari sebelumnya. Dengan jumlah peserta 375 orang, talkshow diawali dengan selarik puisi yang disampaikan dengan sangat cantik dan menyentuh, oleh dokter Dyah Sania Artiwi, selaku pemateri pertama Talkshow IMedFest.


“Di sini.
Aku, kamu, kamu dan kamu.
Mengukir sejarah.
Merangkai cerita.
Merajut cita.
Memintal ceria.
Menikmati suguhan cinta.
Merasakan sensasi kejutan dari para pasukan langit Imsac yang tulus menghadirkan acara ini untuk kita.
Bersama kita memaknai arti perjalanan hidup.
Dan,
Menemukan alasan kenapa kita harus teruskan langkah kebaikan ini.”




Beliau menyampaikan sebuah materi bertajuk ‘Awali Diri Menjadi Generasi Rabbani’. Materi ini sangat berkesan di hati para peserta, semangat beliau dalam menyampaikan materi seolah-olah tertransfer dan membuat hati merinding. Akhirnya, materi ditutup dengan sebuah closing statement, ‘Berkaryalah sehebat yang kau bisa! Karena dengannya, kau akan lebih bersinar. Kenapa perlu bersinar? Karena dengan bersinar, kau akan lebih mudah ditemukan!’.


Talkshow kedua disampaikan oleh Hamas Syahid Izzudin, seorang entrepreneur, penghafal Al-Qur’an, dan juga aktor yang telah membintangi layar lebar seperti “Tausiyah Cinta” dan “Ketika Mas Gagah Pergi”. Pada kesempatan ini, Mas Hamas berbagi tips kepada para peserta dalam menghafalkan Al-Qur’an, dan juga memberi quiz untuk melanjutkan beberapa ayat Al-Qur’an, tentunya ada hadiah yang disiapkan panitia kepada peserta yang berhasil menjawabnya. Yang tak kalah menarik adalah Mas Hamas juga banyak berkisah tentang perjalanannya menjadi seorang aktor, yang pada kenyataannya tidaklah mudah. Ada begitu banyak tantangan dan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah Mas Hamas lakukan.
Diharapkan dengan adanya IMedFest ini banyak orang yang bersemangat dalam mencintai Al-Qur’an sehingga menghasilnya Generasi Rabbani selanjutnya. Sampai bertemu dengan kebermanfaatan besar selanjutnya dari IMedFest.
Wassalamualaikum.