TELADAN KEADILAN
UMAR BIN KHATTAB
Ditulis
Kembali Oleh: RF
‘Adl (Adil) dalam berbagai bentuk terulang sebanyak 28
kali dalam Al-Quran. Dalam bahasa arab, adil/al-‘adl adalah bentuk mashdar dari
kata ‘adala-yadilu. Lawan dari kata ini adalah zhalim. Arti dasar dari al-‘ald adalah
persamaan (al-masawah) atau pertengahan
dari dua sisi yang berlawanan.
Dalam Al-Quran
adil dipadankan dengan kata –kata al-‘adl, al-qisth, dan al-mizan. Dalam firman
ALLAH;
“…. Jika
golongan itu telah kembali (kepada perintah ALLAH) maka damaikanlah antara
keduanya dengan adil, dan berlakulah adil..”
Justice without
force is important, force without justice is tyranny (Blaise pascal; 1823-1862)
Abu Utsman berkata, “ Umar mempekerjakan seseorang
dari Bani Asad untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Orang tersebut masuk ke
dalam rumah Umar untuk mengucapkan salam kepadanya. Ia datang dengan membawa
anaknya, lalu umar menciumnya, laki-laki tersebut berkata, “Apakah engkau mencium anakmu, wahai Amirul Mukminin?
Demi ALLAH, aku tidak pernah mencium anakku. Umar berkata, “Kamu adalah orang
yang memiliki sedikit sekali kasih sayang kepada anak-anak. Selamanya kamu
tidak usah bekerja untukku” Umar membatalkan perjanjiannya.
Di dalam riwayat lain, Umar berkata apakah dosaku
jika ALLAh telah mencabut rasa sayang dari mu. Sesungguhnya ALLAH hanya
menyayangi hamba-Nya yang penyayang. Kemudian Umar berkata “Sobeklah surat
perjanjian ini karena jika Kamu tidak menyayangi anak-anakmu, bagaimana Kamu
menyayangi rakyatmu?”
Suatu hari umar menerima hadiah berupa manisan.
Ketika manisan itu hendak diletakkan dihadapannya, ia bertanya kepada utusan
yang membawanya, “Apakah ini?”, Utusan
menjawab “Manisan yang dibuat oleh orang-orang Azerbaijan, Atabah bin farqad (gubernur
Azerbaijan) telah mengutusku untuk mengirimkannya kepadamu”, Umar mencicipinya
dan merasakan kelezatan yang luar biasa. Umar bertanya lagi “Apakah semua umat
islam disana memakan manisan ini?”, Ia
menjawab, “Tidak. Ini adalah makanan untuk orang-orang khusus”, Umar berkata “Dimana untamu? Ambillah ini dan
bawalah kepada atabah”, lalu katakan kepadanya bahwa umar berkata kepadanya “Bertakwalah
kepada ALLAH dan kenyangkanlah kaum muslim dengan makanan yang
mengenyangkanmu.”
Pada masa paceklik, umar meminta kepada pembantunya
agar disembelihkan unta lalu dagingnya dibagi-bagikan kepada penduduk madinah.
Ketika akan makan siang, umar menemukan punuk unta dan hati di depannya. Kedua
bagian tubuh unta ini dikenal sebagai bagian yang paling enak. Umar bertanya, “dari
mana ini?” Seseorang menjawab “Dari unta yang disembelih pada hari ini”, Umar berkata “Betapa buruknya aku sebagai
penguasa jika aku memakan bagian yang baik darinya dan meninggalkan yang baik
darinya dan meninggalkan tulang-tulangnya untuk rakyat!” umar lantas memanggil pembantunya, “Wahai Aslam,
angkatlah mangkuk besar ini dan berikanlah roti dan minyak kepadaku!”
Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa suatu ketika
kaisar Romawi mengirim utusan kepada Umar bin Khattab untuk melihat dan
menyaksikan keadaan serta aktivitasnya secara langsung. Setelah sampai di
madinah, ia bertanya kepada penduduknya, Dimanakah Raja kalian?” mereka
menjawab, “Kami tidak memiliki raja. Tetapi Kami memiliki pemimpin yang pada
saat ini berada di tanah lapang Madinah”
Utusan itu pergi
untuk mencari Umar bin Khattab, ia menemukannya tertidur di atas padang pasir
dan di bawah terik matahari yang membakar. Jubahnya ia gunakan sebagai bantal,
sementara tubuhnya bercucuran keringat sehingga membasah tanah. Setelah
melihatnya dalam keadaan ini, ia menjadi terharu dan berkata, “Ini adalah
laki-laki yang ditakuti para raja padahal keadaanya seperti ini. Namun engkau
wahai umar, berbuat adil, lalu memebrikan keamanan, dan tidur dengan nyaman.
Adapun raja kami berbuat zhalim, ia selalu begadang dan merasa ketakutan. Aku
bersaksi bahwa agamamu adalah agama yang benar. Andaikan aku tidak datang
kepadamu sebagai utusan, aku akan masuk islam. Akan tetapi, aku wajib kembali
dan menyerahkan diri.